PimpinanDewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat juga mewajibkan seluruh peserta dan undangan yang hadir dalam Pembukaan serta Penutupan Sidang DPRD Sumba Timur menggunakan busana tradisonal Perkampungandengan adat yang masih kental walaupun terletak di tengah kota,,kesini dari kota hanya 5 menit berkendara,kalau berkunjung kesini kita bisa langsung berinteraksi dengan penduduk kampung yang bisanya sibuk menenun kain ikat khas sumba nan cantik di rumah2 panggung sumba yang unik, serta di tempat ini kita juga bisa memakai Paraselebriti saja bangga dengan pakaian adat Indonesia. Kita juga harus bangga dan melestarikan, ya. Sumbamerupakan salah satu pulau yang berada di Nusa Tenggara Timur, salah satu wisata budaya terkenal yakni kampung Ratenggaro. Kerap dijuluki Kampung Adat Ratenggaro ini berada di Desa Umbu Ngedo, Kodi Bangedo, Kabupaten sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Di kampung ini pengunjung dapat menikmati pemandangan alam, situs budaya dan sejarah. Kampungadat Ratenggaro di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/7/2019). Kampung adat yang masih terawat, baik bangunan maupun adat istiadatnya, merupakan salah satu penarik wisatawan untuk mendatangi pulau tersebut. KainTenun Ikat Sumba Sebagai Busana Adat. Kain Tenun Ikat Sumba Sebagai Busana Adat oleh : Purwadi Soeriadiredja Tujuan utama dari pembuatan kain, baik hinggi maupun lau, ialah untuk dipakai oleh pria atau wanita sebagai alat untuk NusaTenggara Timur memiliki beberapa rumah adat yang terkenal dengan keidahan bangunanya. Berikut beberapa rumah adat ntt yang masih digunakan sampai Adaharga 5 juta, 4 juta, 1 juta, ada yang 500 ribu. Kalau selendang ada yang 60 ribu, 260 ribu." Pengrajin tenun ikat di Sumba Timur umumnya menghasilkan kain dengan motif hewan dan tumbuhan, seperti udang, penyu, buaya, serta pohon andung, salah satu jenis pohon yang dapat dijumpai di daerah Sumba Timur. Sebuahbaliho dengan tulisan “ Selamat Datang di Desa Wisata Mondu: Nikmati Keaslian Budaya dan Keindahan Alam Menyatu di Timur Sumba” menyambut kami. Kami langsung menuju Kampung Padadita untuk berganti pakaian dengan menggunakan pakaian adat (kain dan sarung Sumba Timur) agar dapat berkeliling menikmati wisata di Desa Mondu. Jakarta- Jika Anda punya hobi berkuda, maka harus datang ke Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, ada acara Parade 1.001 Kuda Sandelwood yang merupakan wisata budaya berkuda atau dikenal dengan sebutan pasola. 1.001 kuda mungil nan lincah akan mengikuti ajang Parade 1.001 Kuda Sandelwood. 2cn9Uxg. Pakaian adat NTT – Nusa Tenggara Timur adalah provinsi yang terletak di bagian timur Kepulauan Nusa Tenggara. Di provinsi ini, ada sekitar 7 suku, yaitu suku Sabu, Suku Helong, Suku Sumba, Suku Dawan, Suku Rote, Suku Manggarai, dan Suku Lio. Dengan adanya tujuh suku yang berbeda, tak heran jika NTT menjadi salah satu provinsi yang kaya akan kebudayaan. Salah satunya adalah beragam jenis pakaian adat dari setiap suku. Berdasarkan sukunya, beberapa pakaian adat NTT bahkan mempunyai latar belakang, keanekaragaman, serta dihiasi dengan komponen yang berbeda. Nah, dalam artikel ini kita akan membahas tentang jenis-jenis pakaian adat Nusa Tenggara Timur dan ciri khasnya masing-masing. Jenis-Jenis Pakaian Adat NTT dan Ciri Khasnya1. Pakaian Adat Suku Rotea. Pakaian adat Pria Suku Roteb. Pakaian adat wanita Suku Rote2. Pakaian Adat Suku Dawana. Pakaian adat wanita Suku Dawanb. Pakaian adat pria Suku Dawan3. Pakaian Adat Suku Helonga. Pakaian adat wanita Suku Helongb. Pakaian adat pria Suku Helong4. Pakaian Adat Suku Sabua. Pakaian adat pria Suku Sabub. Pakaian adat wanita Suku Sabu5. Pakaian Adat Suku Sumbaa. Pakaian adat pria Suku Sumbab. Pakaian adat wanita suku Sumba6. Pakaian Adat Suku Lio7. Pakaian Adat Suku Manggarai8. Pakaian Adat Suku Sikkaa. Pakaian adat wanita Suku Sikkab. Pakaian adat pria suku SikkaBuku TerkaitMateri Terkait Pakaian Adat Jenis-Jenis Pakaian Adat NTT dan Ciri Khasnya 1. Pakaian Adat Suku Rote Suku Rote merupakan suku yang bermigrasi dari pulau Seram, Maluku, menuju ke pulau Rote. Sekarang mereka menjadi penduduk asli pulau tersebut. Selain itu, suku Rote juga mendiami beberapa pulau lain seperti pulau Timor, pulau Pamana, pulau Ndao, pulau Manuk, pulau Heliana dan pulau Landu. Suku Rote memiliki pakaian adat yang disebut tenun ikat. Pakaian ini mempunyai model yang unik serta sejarah dan nilai filosofis yang tinggi. Karena itu, pakaian adat suku Rote digunakan sebagai ikon daerah Nusa Tenggara Timur. Awalnya, pakaian adat suku Rote terbuat dari serat-serat pohon. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat suku Rote mengganti bahan pakaian mereka dengan kain kapas. Mereka memanfaatkan lahan-lahan di sekitar rumah untuk menghasilkan kapas yang kemudian diolah menjadi kain kapas. Keunikan dan ciri khas pakaian adat suku Rote terdapat pada penutup kepala atau topi yang disebut Ti’i Langga. Ti’i Langga ini bentuknya mirip seperti topi Sombrero yang dipakai oleh masyarakat Meksiko. Selain itu, topi yang terbuat dari daun lontar ini lebih tahan lama dan memiliki variasi bentuk yang menarik. Alasannya karena daun lontar dapat berubah warna menjadi kekuningan atau coklat jika sudah kering kering. a. Pakaian adat Pria Suku Rote Bagi kaum pria Suku Rote, daun lontar ini dianggap sebagai simbol kewibawaan dan kepercayaan diri. Ti’i Langga juga menjadi salah satu aksesoris utama dalam pakaian adat suku Rote. Pakaian adat Tenun Ikat dari suku Rote terdiri dari kombinasi kemeja putih lengan panjang dan sarung tenun ikat berwarna gelap. Nantinya sarung tersebut dipakai di bagian bawah. Para laki-laki biasanya menambahkan selendang kain bermotif di bagian dada dan bahu. b. Pakaian adat wanita Suku Rote Sementara para perempuan biasanya memakai aksesoris khas, yaitu perhiasan berbentuk bulan sabit. Lalu ada juga beberapa jenis aksesoris lain seperti kain selempang, pendi atau ikat pinggang yang terbuat dari emas/perak, serta Habas atau perhiasan yang dipakai di bagian leher. Biasanya, masyarakat suku Rote menggunakan pakaian ini dalam acara-acara besar dan penting, seperti pernikahan keluarga mereka. Selain pakaian adat, pulau Rote juga menyimpan keindahan alam eksotis yang menarik untuk dikunjungi. Kamu bisa melihat beberapa contohnya dalam buku NTT Hidden Paradise Kupang, Soe, Rote, Alor yang ditulis oleh Rita Harahap. 2. Pakaian Adat Suku Dawan Suku Dawan merupakan suku yang tinggal di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur seperti Kupang, Timor dan Belu. Masyarakat suku Dawan mempunyai pakaian adat yang bernama Amarasi. Baju Amarasi ini terdiri dari beberapa komponen, mulai dari kebaya, selendang yang dipakai untuk menutupi bagian dada serta sarung tenun untuk bawahan. a. Pakaian adat wanita Suku Dawan Biasanya, para wanita memakai baju Amarasi dalam perayaan besar. Tak hanya itu saja, para wanita suku Dawan menambahkan beberapa macam aksesoris seperti tusuk konde yang berhiaskan emas, sepasang gelang berbentuk kepala ular dan sisir emas. b. Pakaian adat pria Suku Dawan Sementara itu, baju Amarisi khusus pria terdiri dari kemeja bodo dan sarung tenun yang diikatkan pada pinggang. Umumnya para pria suku Dawan juga menggunakan beberapa aksesoris seperti kalung habas, gelang timor, kalung muti salak dan hiasan tara pada bagian kepala. 3. Pakaian Adat Suku Helong Suku Helong adalah suku yang mayoritas penduduknya berasal dari pulau Timor. Masyarakat suku ini kebanyakan tinggal di wilayah Kupang Tengah dan Kupang Barat. Namun, ada juga yang dapat dijumpai di pulau Flores dan Pulau Semau. Pakaian adat suku Helong terbagi menjadi dua jenis, yaitu pakaian adat khusus wanita dan pakaian adat khusus laki-laki. Biasanya, masyarakat suku Helong menggunakan pakaian adatnya dalam acara-acara adat. a. Pakaian adat wanita Suku Helong Pakaian adat khusus wanita suku Helong terdiri dari berbagai komponen seperti kebaya atau kemben dan sarung sebagai bawahan yang diikat dengan ikat pinggang emas pending. Selain itu, ada tambahan beberapa aksesoris seperti hiasan kepala yang berbentuk bulan sabit bula molik, kalung dan anting-anting berbentuk bulan kerabu, serta hiasan leher yang berbentuk bulan. b. Pakaian adat pria Suku Helong Untuk laki-laki, pakaian adatnya terdiri dari atasan kemeja bodo yang dipadukan dengan bawahan selimut lebar. Lalu, ada berbagai macam aksesoris yang biasa digunakan oleh para laki-laki seperti ikat kepala destar dan perhiasan leher habas. 4. Pakaian Adat Suku Sabu Suku Sabu adalah salah satu kelompok etnis yang tinggal di pulau Sawu dan pulau Raijua, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat suku Sabu mempunyai pakaian adat yang terbagi menjadi dua jenis yaitu pakaian adat khusus pria dan pakaian adat khusus wanita. a. Pakaian adat pria Suku Sabu Bagi para pria, pakaian adat ini biasanya terdiri dari kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan bawahan sarung kain katun. Lalu, ada berbagai macam aksesoris yang biasa digunakan seperti selendang yang ditaruh di bagian bahu, ikat kepala berupa mahkota tiga tiang yang terbuat dari emas, sabuk berkantong, kalung muti salak, perhiasan leher habas dan sepasang gelang emas. b. Pakaian adat wanita Suku Sabu Untuk pakaian adat khusus wanita, umumnya cukup sederhana dibanding dengan pria. Kaum wanita Suku Sabu biasanya menggunakan kebaya dan dua buah kain tenun berbentuk sarung dengan dua lilitan dan ikat pinggang pending. Pakaian adat suku Sabu biasanya dipakai oleh ketua adat dan masyarakat saat menghadiri acara adat, termasuk saat melakukan ritual pemakaman. 5. Pakaian Adat Suku Sumba Suku Sumba adalah suku yang tinggal di Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur. Suku ini mempunyai pakaian adat yang bernama Hinggi. Hinggi yang digunakan ini terdiri dari dua lembar, yaitu Hinggi Kombu dan Hinggi Kawuru. a. Pakaian adat pria Suku Sumba Untuk bagian kepala, kaum pria suku Sumba melengkapinya dengan ikat kepala Tiara Patang yang dililitkan atau dibentuk seperti jambul. Posisi dari jambul ini berada pada bagian depan atau samping kanan dan kiri, tergantung pada simbol yang ada di jambulnya. Selain itu, pakaian adat suku Sumba untuk pria juga dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris seperti senjata tradisional kabiala yang ditaruh di bagian ikat pinggang. Bagi masyarakat suku Sumba, Kabiala dianggap sebagai lambang dari keperkasaan. Lalu, pada bagian pergelangan tangan kiri dipasangkan perhiasan yang disebut Muti Salak serta Kanatar. Perhiasaan ini menyimbolkan strata sosial dan kemampuan ekonomi pemakainya. b. Pakaian adat wanita suku Sumba Untuk pakaian adat yang dikenakan oleh kaum wanita biasanya berupa kain yang berbeda-beda jenisnya, seperti Lau Kawar, Lau Pahudu, Lau Mutikau dan Lau Pahudu Kiku. Kain-kain ini digunakan hingga setinggi dada serta pada bagian bahu ditutup menggunakan Taba Huku yang berwarna senada dengan kain yang dikenakan. Lalu, di bagian kepala wanita suku Sumba memakai Tiara berwarna polos yang diikatkan dan dilengkapi dengan Hai Kata Tiduhai. Selanjutnya pada bagian dahi memakai perhiasan logam Maraga, di bagian telinga memakai perhiasaan yang disebut mamuli serta memakai kalung emas. Pemakaian semua aksesoris tersebut membuat penampilan wanita suku Sumba menjadi terlihat semakin istimewa. Pakaian adat suku Sumba biasanya digunakan pada acara-acara adat atau peristiwa besar seperti upacara adat, pesta perayaan dan sejenisnya. Pakaian adat suku Sumba sekarang cenderung menekankan pada tingkat kepentingan dan juga suasana lingkungan suatu kejadian dibanding hierarki status sosial. Akan tetapi masih ada beberapa perbedaan kecil. Contohnya seperti busana pria bangsawan yang terbuat dari kain-kain serta aksesoris yang lebih halus daripada pria dari kalangan rakyat biasa. Namun secara keseluruhan, komponen-komponennya terlihat sama. 6. Pakaian Adat Suku Lio Suku Lio adalah suku tertua yang berada di Flores, mereka bisa ditemui di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Suku ini salah satu suku yang sangat memegang teguh tradisi dan budaya warisan para leluhur, termasuk pakaian adatnya. Masyarakat suku Lio mempunyai pakaian adat yang hingga saat ini masih dilestarikan bernama Tenun Ikat Patola. Ikat patola sendiri merupakan kain tenun yang dipakai secara khusus oleh kepala suku dan warga kerajaan. Pakaian adat ini mempunyai ciri khas motif yang beragam seperti motif hewan, dahan, dedaunan, ranting hingga motif manusia. Ukurannya terbilang kecil dengan bentuk geometris yang disusun membentuk jalur-jalur berwarna biru atau merah yang didasari kain berwarna gelap. Motif-motif tersebut ditenun dengan menggunakan benang berwarna merah atau biru pada kain yang berwarna gelap. Wanita dari kalangan bangsawan biasanya menambahkan manik-manik atau kulit kerang sebagai hiasan pada bagian tepinya. Ikat patola ini terbilang cukup sakral sebab sering digunakan sebagai penutup jenazah para kepala suku, raja dan bangsawan. Selain itu, pakaian adat ini biasa digunakan sebagai pakaian kebesaran pada saat ritual atau upacara adat, seserahan saat hajatan, upacara penghormatan kepada sang pencipta, barang jaminan, busana kebesaran, memakaikan kepada anak dan menantu serta bukti kemampuan keterampilan menenun anak gadis sebagai persyaratan menikah. 7. Pakaian Adat Suku Manggarai Manggarai merupakan suku yang tinggal di wilayah Nusa Tenggara Timur. Mereka mempunyai pakaian adat dengan nilai filosofis tinggi, yaitu kain Songke. Kain Songke adalah kain yang wajib digunakan oleh para wanita suku Manggarai dengan cara pemakaian yang mirip seperti sarung. Akan tetapi, pemakaiannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan sebab ada beberapa bagian yang harus menghadap ke arah depan. Kain Songke didominasi oleh warna hitam yang melambangkan keagungan dan kebesaran suku Manggarai. Selain itu, ada juga motif-motif lain pada kain Songke, masing-masing motif mempunyai makna yang berbeda-beda. Contohnya seperti kain Songke dengan motif wela kaleng. Motif ini melambangkan ketergantungan manusia dengan alam. Ada juga kain Songke bermotif Ranggong yang melambangkan kerja keras serta kejujuran. Lalu ada motif Su’i yang melambangkan bahwa segala sesuatu memiliki batasannya. 8. Pakaian Adat Suku Sikka Suku Sikka merupakan sebuah komunitas adat yang tinggal di Kabupaten Sikka, Flores Timur Tengah, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Suku Sikka memiliki pakaian adat yang sudah terpengaruhi oleh budaya luar, seperti Bugis, Portugis, Cina, Belanda, Arab, dan India. Pakaian adat suku Sikka dibagi menjadi dua jenis, yaitu pakaian adat khusus wanita dan pakaian adat khusus laki-laki. Dulu, pakaian adat suku Sikka dibedakan berdasarkan tingkatan sosial, yaitu bangsawan dan masyarakat umum. Namun sekarang, tradisi ini sudah ditinggalkan sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam pakaian adatnya. Kecuali pada tingkat kehalusan tenunan, jahitan, dan juga ukiran perangkat perhiasannya. a. Pakaian adat wanita Suku Sikka Untuk kaum wanita, pakaian adat ini terdiri dari penutup badan yang berupa Labu Liman Berun, bentuknya seperti kemeja berlengan panjang dan terbuat dari sutera. Labu Liman Berun wanita sedikit terbuka di bagian pangkal leher agar memudahkan saat pemakaiannya. Selain itu, bentuk polanya juga tidak terlalu menyerupai kemeja atau blus yang berkancing di bagian depannya. Sementara di bagian atasnya diselempangkan selendang yang melintang sampai ke dada. Lalu di bagian bawahnya menggunakan kain sarung khusus wanita, yaitu utan lewak. Kain sarung ini dihiasi dengan beragam flora dan fauna dalam lajur-lajur bergaris. Utan lewak sendiri berarti kain tiga lembar yang berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan warna merah, coklat, putih, biru, dan kuning secara melintang. Warna-warna kain wanita ini melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Di bagian kepala, ada hiasan berupa konde atau sanggul yang terbuat dari ukiran berwarna keemasan. Saat ini ada beberapa variasi lagi untuk hiasan kepala kaum wanita yang dipengaruhi oleh suku-suku lainnya. Perhiasaan lainnya yang digunakan oleh kaum wanita adalah gelang kalar yang dibuat dari gading dan perak. Penggunaannya tergantung peristiwa dan upacara adat, namun jumlah kalar gading dan perak biasanya genap. Seperti dua gading dan dua perak di setiap tangan. Kaum ningrat biasanya menggunakan lebih banyak kalar, namun jumlahnya tetap genap. Seperti enam, delapan, sepuluh, dan seterusnya. Perhiasan lain yang sering digunakan oleh kaum wanita adalah kilo yang tergantung pada telinga. b. Pakaian adat pria suku Sikka Pakaian adat kaum laki-laki Suku Sikka umumnya terdiri dari kain penutup badan dan juga penutup kepala. Untuk penutup badan, biasanya mirip seperti kemeja gaya barat yang bertangan panjang dengan warna putih. Hanya saja, ada tambahan berupa selembar lensu sembar yang diselendangkan di bagian dada. Lensu sembar ini memiliki corak flora atau fauna dan diikat dengan teknik ikat lungsi. Lalu di bagian pinggangnya memakai utan atau utan werung. Utan werung adalah sejenis sarung berwarna gelap seperti biru tua atau hitam dengan garis biru melintang. Lalu di bagian kepalanya ada penutup kepala yang terbuat dari kain batik soga yang digunakan dengan pola ikatan tertentu. Perhiasan pada kaum pria salah satunya adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan juga kesaktian. Demikian pembahasan tentang pakaian adat Nusa Tenggara Timur NTT. Semoga semua pembahasan di atas bermanfaat sekaligus bisa menambah wawasan kamu. Jika ingin mencari buku tentang daerah-daerah di Indonesia, maka kamu bisa mendapatkannya di Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi LebihDenganMembaca. Penulis Gilang Oktaviana Putra Rujukan Udi Sukrama dan Otong Lesmana 2018 Pakaian Adat, Senjata Tradisional dan Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur Apri Subagyo 2017 Mengenal Pakaian Adat Nusantara ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien Setiap daearah memiliki busana atau pakaian adat sendiri, dan itu adalah kekayaan budaya bangsa kita. Banyak pemuda yang kini melupakan budaya bangsanya termasuk pakaian adatnya. Busana adat atau pakaian adat adalah pakaian yang dipakai menurut aturan-aturan tertentu dan telah disepakati dan dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi setelahnya. Masyarakat di Sumba Timur juga memiliki pakaian adat yang khas dan penuh dengan makna. Dan berikut ini akan admin bahas beberapa jenis busana atau pakaian adat di Sumba Timur dan fungsinya. Perlengkapan Pakaian Adat Masyarakat Sumba Timur Berdasarkan ketentuan adat masyarakat Sumba Timur, perlengkapan pakaian laki-laki terdiri dari beberapa kain; tiara ikat pada kepala yang disebut juga kambala, dua helai hinggi yang dililitkan pada pinggang disebut kalambungu dan satunya lagi dililitkan pada pundak disebut paduku, lalu ada kalumbutu yakni seamcam tempat sirih pinah yang digantung pada sebelah kanan pundak. Untuk perlengkapan tambahan ada ruhu banggi yang diikat dengan sebuah tuangalu yaitu kotak kayu tempat menyimpan mamuli perhiasan dari emas dan perak. Pakaian Adat Sehari-Hari Masyarakat Sumba Timur Sedangkan pakaian yang dipakai sehari-hari dinamakan hinggi patinu mbulungu, hinggi papabetingu atau hinggi kawuru. Ada pakaian yang khusus dipakai pada peristiwa-peristiwa penting saja atau pada saat upacara yaitu pakaian hinggi kombu. Namun hinggi kombu juga bisa dipakai sehari-hari namun biasanya yang sudah usang atau rusak yang disebut dengan katari hinggi yang berarti selimut usang. Namun sangat disayangkan bahwa saat ini kain—kain tenun tradisional Sumba ini jarang dipakai oleh masyarakat Sumba Timur, kini mereka lebih menyukai kain buatan pabrik-pabrik modern yang disebut hinggi tiara yang harganya lebih murah dan mudah diperoleh di toko-toko. Pakaian Adat Sumba Timur Pada Saat Peristiwa Penting Masyarakat Sumba Timur jika ada peristiwa penting misalnya pada pesta atau upacara dan ritual-ritual keagamaan biasanya memakai pakaian yang baik dan bersih. Pakaian yang terbaiknya adalah hinggi kawuru atau pakaian hinggi kombu. Pakaian tersebut dipakai di semua kalangan karena tidak ada perbedaan antara pakaian yang dipakai oleh ratu atau maramba kaum bangsawan dengan pakaian yang dipakai oleh kabihu ata. Jika pun ada maka itu hanya menyangkuat kualitas saja dan hanya pada motif ragam hias tertentu, seperti motif ruu patola yang dinamakan patola ratu. Karena potala ratu ini hanya boleh dipakai oleh para ratu dan kaum bangsawan saja. Pakaian Adat Wanita Sumba Timur Perlengkapan pakaian adat wanita terdiri dari lau saja. Cara memakai lau adalah dengan mengepitnya pada ketiak sebelah kiri, lalu disangkutkan pada pundak kiri atau dilipat di pinggang. Namun saat ini selain lau, para wanita juga memakai kebaya atau pakaian atas yang lain. Sedangkan kain sarung yang dipakai sehari-hari disebut lau patinu mbulungu atau lau papabetingu dan lau tiara. Jika untuk bepergian atau untuk pesta maupun upacara adat para wanita di Sumba Timur memakai lau ruukadama, lau kombu atau lau kawalu. Namun karena sarung-sarung tersebut terasa agak berat jika dipakai, maka mereka lebih menyukai sarung yang terbuat dari kain atau sarung yang beli di toko. Kain sarung seperti itu disebut sebagai lau tiara hatingu yang artinya sarung kain satin atau lau tiara hutaru yang artinya sarung kain sutera. Agar menjadi bagus maka sarung-sarung tadi dihiasi dengan sulaman yang terdiri dari berbagai motif ragam hias seperti motif ayam, burung, bunga dan sebagainya. Kai nsarung yang dihiasi dengan sulaman ini diberi nama lau pabunga yang artinya sarung yang dihiasi atau lau pakambuli yang artinya sarung yang disulam. Sementara itu para wanita yang dari golongan bangsawan atau hartawan biasanya ada yang menghiasi sarung-sarungnya dengan uang logam Belanda yang terbuat dari perak dengan nilai setara dua setengah golden uang emas Inggris atau poundserling. Sarung seperti ini dinamakan lau utu amahu yang artinya sarung jahitan emas atau perak. Ada juga sarung yang dihiasi manik-manik yang disebut lau utu hada dan sejenis kerang kecil atau lau wihi kau. Selain kain sarung, pada acara-acara khusus seperti pesta atau upacara adat biasanya memakai lau pahikungu atau lau pahudu. Perlengkapan adat lain yang harus dibawa oleh kaum wanita Sumba Timur adalah buala hapa atau tepat sirih pinang khusus untuk wanita, dan sebagai perhiasannya biasanya mereka juga memakai sisir yang terbuat dari kulit penyu pada sanggulnya, lalu perhiasan lain seperti kalung, gelang manik-manik dan anting-anting yang terbuat dari emas. Itulah Jenis-Jenis Busana dan Pakaian Adat di Sumba Timur, semoga artikel memberi kita wawasan dan pengetahuan akan kekayaan budaya bangsa kita. Kain Tenun Sumba Timur – Harus diakui bahwa Indonesia memiliki berbagai macam kekayaan, mulai dari kekayaan alam hingga kekayaan budaya. Bagaimana tidak, Ratusan suku bangsa yang mendiami 17 ribu pulau di Indonesia sangatlah kaya dengan adat istiadat, tradisi hingga pakaian yang digunakan. NTT adalah sebuah daerah yang berada di Indonesia bagian timur. Salah satu daerah di NTT yang cukup terkenal yaitu Pulau Sumba. Kain Tenun Sumba Timur sering dipakai diberbagai acara – foto ig flobamorata_hitz Pulau Sumba memiliki berbagai macam destinasi wisata yang ramai dikunjungi, baik masyarakat domestik maupun internasional. Apalagi keindahan alam savana yang ditawarkan sungguh mengagumkan. Tapi jangan salah lho, gak cuma pemandangan alam yang membuat sumba ini sangat memikat, melainkan karena keindahan dan kekayaan budayanya. Salah satu yang paling terkenal adalah kain tenun sumba. Mengenal Kain Tenun Sumba Timur Kain tenun sumba baik itu sumba timur maupun bumba barat lahir dari kekayaan alam Sumba. Pewarnaan kain Sumba yang menggunakan bahan alami seperti akar mengkudu, serat kayu hingga lumpur serta pemilihan motif yang unik merepresentasikan budaya Sumba yang spesial. Kain Tenun Sumba Timur punya motif yang beragam – foto ig flobamorata_hitz Adapun latar belakang salah satu corak tenun ikat dan songket/Pahikung SUMBA timur adalah keinginan untuk memilihara hubungan baik antara manusia dengan arwah leluhur. Salah satu adat pada suku pra sejarah yang mempercayai bahwa orang yang sudah meninggal atau mati tetap berpengaruh pada anggota keluarga yang ditinggalkan. Proses Pembuatan Kain Tenun Sumba Proses pembuatan kain tenun sumba – Sumber Kain tenun sumba timur khususnya biasanya dibuat selama tiga tahun lamanya. Tak heran jika kamu harus membayar dengan uang yang cukup mahal untuk membeli sebuah kain tenun yang berasal dari sumba timur. Kenapa bisa selama itu? Alasannya adalah pembuatan kain tenun sumba timur ini memiliki 42 tahap pengerjaan. Awal mula pembuatannya ini dimulai dengan meramu tumbuhan dan hewan sebagai bahan pewarna kain. Setelah itu proses akan dilanjutkan dengan proses pengikatan menggunakan daun gewang dan kemudian dilakukan proses penjemuran. Kemudian, setiap motif yang ada di bagian kain tenun memiliki makna masing-masing. kain tenun sumba timur yang indah – foto ig rini_lalang Tahapan lain dalam pembuatan kain Sumba ini juga menguji kesabaran seperti menyimpannya dalam keranjang tertutup untuk mematangkan warnanya. Dalam tahap ini kain itu dibiarkan tidur, seperti kita menidurkan anak. Dalam proses ini penenun membiarkan alam ikut campur agar kain menjadi lebih indah. Baca juga artikel lainnya Penginapan murah di waikabubak Bendungan lambanapu sumba Festival pasola Motif kain tenun sumba timur motif Kain Tenun Sumba Timur – foto milik ig kaintenunsumb Salah satu motif Kain Tenun Sumba Timur yang paling terkenal adalah Motif Kuda. Motif kuda dalam kain tenun sumba adalah melambangkan kepahlawanan, keagungan dan kebangsawanan, karena kuda dianggap sebagai simbol harga diri masyarakat Sumba. Selain itu ada juga motif kain tenun sumba timur berupa motif buaya atau naga menggambarkan kekuatan dan kekuasaan raja, motif ayam melambangkan kehidupan wanita dan motif burung, umumnya kakatua, melambangkan persatuan. Kain Tenun Sumba Timur sering jadi properti foto – foto ig elzabethngan Selain itu, pada kain-kain yang kuno dijumpai pula motif mahang atau singa, rusa, udang, kura-kura, dan hewan lain. Karena makna mendalam yang terkandung disetiap kain tenun ini yang membuat keunikan tersendiri dibandingkan dengan kain tenun lainnya. Kain tenun yang dihasilkanpun biasanya sangat indah dan tentunya memiliki arti yang sangat besar bagi masyarakat sumba itu sendiri. Tahukah kamu bahwa kuda juga hampir disejajarkan dengan arwah nenek moyang. Kain tenun sumba timur ini tidak hanya dijadikan sebagai keperluan sehari-hari oleh masyarakat sumba, melainkan untuk keperluan penyambutan kelahiran, perayaan pernikahan hingga untuk pengantar orang yang sudah meninggal. Pakaian adat sumba dari kain tenun sumba timur – foto ig Cara pemakaian kain tenun ini untuk orang yang sudah meninggal yaitu dengan cara dibaluti disekujur tubuhnya dengan kain bermotif udang. Kenapa? Karena udang bermakna sebagai kebangkitan setelah kematian dan kehidupan abadi setelah keluar dari dunia fana. Biasanya orang sumba timur juga menjadikan kain tenun sebagai mata pencahariannya. Dari membuat atau menjual kain tenun, masyarakat sumba dapat menyekolahkan anak-anak dan memberi makan keluarga. Biasanya, pembuatan kain tenun sumba timur ini dibuat oleh gadis-gadis dan ibu-ibu di Sumba. Anak-anak yang masih berusia antara 8-10 tahun juga sudah diajarkan untuk menghasilkan karya kain tenun agar nantinya bisa mahir dalam membuat kain tenun. *** Nah, itulah latar belakang kain tenun sumba timur yang bisa kamu ketahui untuk menambah wawasan kamu. Dengan memahami budaya berbagai macam kain dari penjuru daerah membuat kita bersyukur bisa terlahir di negara yang sangat kaya akan budaya dan alam bukan?